Mengevaluasi Pembibitan Tanaman Kelapa Sawit

Pembibitan merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit. Melalui tahapan pembibitan ini diharapkan akan menghasilkan bibit yang baik dan berkualitas. Bibit kelapa sawit yang baik adalah bibit yang memiliki kekuatan dan penampilan tumbuh yang optimal serta berkemampuan dalam menghadapi kondisi cekaman lingkungan saat pelaksanaan transplanting.

Pembibitan kelapa sawit dengan benih yang telah dikecambahkan dapat dilaksanakan dengan dua cara, yaitu:

  • Cara dua tahap (prenursery dan main nursery)
  • Cara satu tahap (langsung ke nursery)

Melalui cara 1 atau 2, bibit baru siap dipindahkan ke lapangan (kebun) apabila telah berumur 11—12 bulan. Dalam pelaksanaan pembibitan beberapa yang harus diperhatikan sebagai berikut:

1. Kebutuhan Kecambah

Kebutuhan kecambah per hektar 170 kecambah untuk populasi tanaman  di lapangan 130 pohon per hektar. Ikhtisar koefisien pembibitan per hektar kecambah sebagai berikut :

• Kecambah                                                       : 100%  =  170

•  Rusak/ patah dalam pengangkutan     :     4%  =     7

•  Ditanam dalam polybag kecil (PN)      :    96% = 163

•  Seleksi di pre nursery (PN)                     :      8% =   13

•  Ditanam ke main nursery (MN)            :    88% = 150

•  Seleksi I = 3%, II = 2%, III = 1%           :      6% =     9

•  Bibit siap tanam                                          :    78% = 141

•  Cadangan untuk sulaman                       :      8% =   11

•  Bibit ditanam di lapangan                      :    70% = 130

2. Media Tanam

Media tanam yang harus digunakan seharusnya adalah tanah yang bekualitas baik. Misalnya tanah bagian atas (top soil) pada ketebalan 10—20 cm. Tanah harus memiliki struktur yang baik, gembur, serta bebas kontaminasi hama dan penyakit. Bila tanah yang digunakan kurang gembur dapat dicampur dengan pasir dengan perbandingan pasir : tanah = 3 : 1 (kadar pasir tidak melebihi 60%). Sebelum dimasukkan ke dalam polibeg, campuran tanah dan pasir diayak, dengan ayakan kasar berdiameter 2 cm. Proses pengayakan bertujuan untuk membebaskan media tanam dari sisa-sisa kayu, batuan kecil dan material lainnya.

3. Tempat Pembibitan

Tempat pembibitan harus memenuhi syarat sebagai berikut:

  • Areal harus rata dan datar
  • Dekat dengan sumber air
  • Letaknya sedapat mungkin di tengah-tengah areal yang akan ditanami dan mudah diawasi.

Lahan pembibitan harus diratakan dan dibersihkan dari segala macam gulma dan dilengkapi dengan instalasi penyiraman (misalnya tersedianya springkle irrigation), serta dilengkapi dengan jalan-jalan dan parit-parit drainase. Luas kompleks pembibitan umumnya 1—1,5% dari areal penanaman yang direncanakan.

4. Pengolahan Pembibitan

Lahan pembibitan harus diratakan dan dibersihkan dari segala macam gulma dan dilengkapi dengan instalasi penyiraman (misalnya tersedianya springkle irrigation), serta dilengkapi dengan jalan-jalan dan parit-parit drainase. Luas kompleks pembibitan umumnya 1—1,5% dari areal penanaman yang direncanakan.

5. Pembuatan Bedengan

Pembuatan bedengan harus memenuhi kaidah-kaidah yang telah ditentukan dengan benar.

  • Bedengan dibuat di areal yang telah diratakan (di petak),  diberi dinding papan atau bambu setinggi polybag (20 – 25 cm) agar polybag dapat tersusun tegak.
  • Ukuran bedengan adalah lebar 1,2 m, panjang sesuai kebutuhan (maksimal 10 m), tinggi atap/naungan 2 – 2,5 m dan di antara bedengan dipisahkan dengan jarak 0,7 – 0,8 m untuk jalan dan pembuangan air.
  • Arah bedengan Utara – Selatan.
  • Dasar bedengan dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah petakan dan diberi lapisan pasir setebal 3 – 5 cm untuk memperlancar draenase.

6. Naungan

Naungan  pada pembibitan berfungsi sebagai sarana aklimatisati bibit terhadap mikroklimat tanaman khususnya radiasi matahari dan air hujan.

  • Bibit muda membutuhkan naungan untuk mencegah timbulnya kerusakan karena sinar matahari maupun hujan terlalu deras.
  • Pelindung harus dibuat dengan arah Utara – Selatan dan atapnya miring ke arah Barat menghadap ke Timur untuk mendapatkan cahaya matahari pagi.
  • Jenis naungan/pelindung yang digunakan adalah daun kelapa sawit, daun kelapa, daun nipah, rumbia atau bahan lain yang layak sebagai naungan. Daun yang dipakai harus sehat tidak mengandung hama/penyakit dan jika perlu sebelum dipasang disemprot dengan fungisida/insektisida.
  • Bahan naungan tersebut mempunyai sifat mudah diperlakukan pada saat diperlukan penjarangan.

7. Penanaman Kecambah

Kecambah kelapa sawit yang telah diterima diusahakan segera ditanam pada polibeg yang telah disediakan. Keterlambatan penanaman akan mengakibatkan kerusakan atau kelainan pada kecambah tersebut, anatara lain:

  • Bakal akar dan daun akan menjadi panjang sehingga mempersulit penanaman.
  • Bakal akar dan daun akan mudah patah.
  • Kecambah akan mengalami kerusakan karena terserang jamur.
  • Kecambah akan menjadi mati/kering karena kekurangan air.

Kecambah ditanam pada kedalaman ± 1,5 cm dari permukaan tanah. Kesalahan-kesalahan dalam penanaman akan dapat menimbulkan kelainan pada bibit. Kelainan yang terjadi pada bibit antara lain:

  • Bibit yang terputar karena penanaman radicula menghadap ke atas.
  • Akar bibit terbongkar karena penanaman yang terlalu dangkal.
  • Bibit menguning karena media terlalu banyak mengandung pasir.
  • Bibit mati (busuk) karena tergenang air penyiraman atau air hujan.

8. Dederan (Prenursery)

Bibit yang telah ditanam di Prenursery dan mainnursery perlu dipelihara dengan baik agar pertumbuhannya sehat dan subur, sehingga bibit akan dapat dipindahkan ke lapang sesuai dengan umur dan saat tanam yang tepat. Pemeliharaan bibit meliputi:

  • Benih yang sudah berkecambah di deder dalam polybeg kecil, kemudian diletakkan pada bedengan-bedengan yang lebarnya 120 cm dan panjang bedengan secukupnya.
  • Ukuran polybag yang digunakan adalah 12 x 23 cm atau 15 x 23 cm (lay flat).
  • Polybag diisi dengan 1,5—2,0 kg tanah atas yang telah diayak. Tiap polybag diberi peluang untuk drainase.
  • Kecambah ditanam sedalam ± 2 cm dari permukaan tanah dan berjarak 2 cm.
  • Setelah bibit dederan yang berada di prenursery telah berumur 3—4 bulan dan berdaun 4—5 helai, bibit dederan sudah dapat dipindahkan ke persemaian bibit (nursery).
  • Keadaan tanah di polybag harus selalu dijaga agar tetap lembab tapi tidak becek. Pemberian air pada lapisan atas tanah polibag dapat menjaga kelembaban yang dibutuhkan oleh bibit.
  • Penyiraman dengan system springkle irrigation sangat membantu dalam usaha memperoleh kelembaban yang diinginkan dan dapat melindungi bibit terhadap kerusakan karena siraman.

9. Persemaian Bibit (Main Nursery)

  • Untuk penanaman bibit pindahan dari dederan dibutuhkan polybag yang lebih besar, berukuran 40 cm x 50 cm atau 45 cm x 60 cm (lay flat), tebal 0,11 mm dan diberi lubang pada bagian bawahnya untuk drainase.
  • Polybeg diisi dengan tanah atas yang telah di ayak sebanyak 15—30 kg per polybag, disesuaikan dengan lamanya bibit yang akan dipelihara (sebelum dipindahkan) dipesemaian bibit.
  • Bibit dederan ditanam sedemikian rupa sehingga leher akar berada pada permukaan tanah polybag besar dan tanah sekitar bibit dipadatkan agar bibit berdiri tegak. Bibit pada polybag besar kemudian disusun diatas lahan yang telah diratakan, dibersihkan dan diatur dengan hubungan system segitiga sama sisi dengan jarak misalnya 90 cm x 90 cm x 90 cm.

10. Pemeliharaan Bibit

Bibit yang telah ditanam di Prenursery dan mainnursery perlu dipelihara dengan baik agar pertumbuhannya sehat dan subur, sehingga bibit akan dapat dipindahkan ke lapang sesuai dengan umur dan saat tanam yang tepat. Pemeliharaan bibit meliputi:

  • Penyiraman
  • Penyiangan
  • Pengawasan dan seleksi
  • Pemupukan

a. Penyiraman

  • Penyiraman bibit dilakukan dua kali sehari, kecuali apabila jatuh hujan lebih dari 7—8 mm pada hari yang bersangkutan.
  • Air untuk menyiram bibit harus bersih dan cara menyiramnya harus dengan semprotan halus agar bibit dalam polybag tidak rusak dan tanah tempat tumbuhnya tidak padat.
  • Kebutuhan air siraman ± 2 liter per polybag per hari, disesuaikan dengan umur bibit.

b. Penyiangan

  • Gulma yang tumbuh dalam polybag dan di tanah antara polybag harus dibersihkan, dikoret atau dengan herbisida.
  • Penyiangan gulma harus dilakukan 2—3 kali dalam sebulan, disesuaikan dengan pertumbuhan gulma.

c. Pengawasan dan Seleksi

  • Pengawasan bibit ditujukan terhadap pertumbuhan bibit dan perkembangan gangguan hama dan penyakit.
  • Bibit yang tumbuh kerdil, abnormal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis harus dibuang.
  • Pembuangan bibit (thinning out) dilakukan pada saat pemindahan ke main nursery,  yaitu pada saat bibit berumur 4 bulan dan 9 bulan, serta pada saat pemindahan bibit ke lapangan.

Tata cara pelaksanaan seleksi bibit :

  • Berikan tanda dengan cat warna putih di polybag setiap bibit afkir/abnormal.
  • Catat dan buat berita acara semua bibit yang di afkir.
  • Bibit afkir dikeluarkan dari blok bibitan dan dimusnahkan.

d. Pemupukan

Pemupukan bibit sangat penting untuk memperoleh bibit yang sehat, tumbuh cepat dan subur.

Pupuk yang diberikan adalah urea dalam bentuk larutan dan pupuk majemuk.

Dosis dan jenis pupuk yang diberikan dapat dilihat pada table berikut ini.

Umur Bibit

(Minggu Ke)

Jenis Pupuk Dosis

Rotasi

4—5 Larutan Urea 0,2 % 3—4 lt larutan/100 bibit 1 minggu
6—7 Larutan Urea 0,2 % 4—5 lt larutan/100 bibit 1 minggu
8—16 Rustica 15.15.6.4 1 gram/bibit 1 minggu
17—20 Rustica 12.12.17.2 5 gram/bibit 2 minggu
21—28 Rustica 12.12.17.2 8 gram/bibit 2 minggu
29—40 Rustica 12.12.17.2 15 gram/bibit 2 minggu
41—48 Rustica 12.12.17.2 17 gram/bibit 2 minggu

11. Persiapan Pemindahan Bibit ke Lapangan

a. Pemutaran Bibit (Rotating)

Bibit diputar pada tempatnya dua minggu sebelum dikirim ke lapangan. Setelah bibit diputar harus disiram air dengan cukup setiap hari sampai waktu pengiriman.

b. Perlakuan Bibit Untuk Persiapan Pengangkutan

Bibit harus diangkat dengan cara menempatkan satu tangan di dasar polybag dan satunya lagi menggenggam pangkal batang. Tidak boleh mengangkat bibit dengan cara menarik daunnya. Bibit tidak boleh dilempar atau dibanting, karena akan mengakibatkan polybag pecah. Bibit disusun satu lapis di atas truk dan disiram sebelum berangkat ke lapangan.

Tata cara pelaksanaan seleksi bibit :

Umur Bibit(Minggu Ke) Jenis Pupuk Dosis Rotasi
4—5 Larutan Urea 0,2 % 3—4 lt larutan/100 bibit 1 minggu
6—7 Larutan Urea 0,2 % 4—5 lt larutan/100 bibit 1 minggu
8—16 Rustica 15.15.6.4 1 gram/bibit 1 minggu
17—20 Rustica 12.12.17.2 5 gram/bibit 2 minggu
21—28 Rustica 12.12.17.2 8 gram/bibit 2 minggu
29—40 Rustica 12.12.17.2 15 gram/bibit 2 minggu
41—48 Rustica 12.12.17.2 17 gram/bibit 2 minggu

Bibit diputar pada tempatnya dua minggu sebelum dikirim ke lapangan. Setelah bibit diputar harus disiram air dengan cukup setiap hari sampai waktu pengiriman.

Bibit harus diangkat dengan cara menempatkan satu tangan di dasar polybag dan satunya lagi menggenggam pangkal batang. Tidak boleh mengangkat bibit dengan cara menarik daunnya. Bibit tidak boleh dilempar atau dibanting, karena akan mengakibatkan polybag pecah. Bibit disusun satu lapis di atas truk dan disiram sebelum berangkat ke lapangan.

2 thoughts on “Mengevaluasi Pembibitan Tanaman Kelapa Sawit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s